• 8f761563da734779a5858abcac40a8e8.jpg
  • 34879-bigthumbnail.jpg
  • 3323811595_d75e2bbdc2.jpg
  • media-16986-48052.jpg
  • nutmeg.jpg
  • [wallcoo.com]_egg_wallpaper_0J155s_300x300.jpg

Info Terkini

BPOM Temukan 22 Merek Kopi Berbahaya

Jakarta - Badan Pengawasan Obat dan Minuman (BPOM) menyatakan bahwa dalam dua hari terakhir, telah menguji sampel 56 produk kopi yang beredar bebas di pasaran.

Hasilnya ada 22 produk yang positif mengandung Bahan Kimia Obat (BKO) alias mengandung bahan-bahan berbahaya. Produk-produk itupun akan segera ditarik dari pasaran.

BPOM pun lantas mengeluarkan keputusan untuk menarik merek-merek kopi berbahaya itu dari pasar. Masalahnya produk-produk itu dampaknya bagi konsumen bisa menimbulkan sakit hingga kematian.

Kepala Badan POM, Kustantinah menjelaskan bahwa surat rekomendasi telah dikirimkan ke Dinas Kesehatan untuk mencabut izin produksi para produsen kopi yang termasuk dalam daftar. Pengedar dan penjual produk-produk kopi berbahaya tersebut dinilai melanggar UU No 7 tahun 1996 tentang pangan dengan ancaman hukuman lima tahun penjara atau denda Rp 600 juta.

Di dalam produk kopi-kopi ini, dinyatakan ada yang positif dicampur dengan zat aktif Viagra yakni sildenafil, atau pun zat aktif obat Cialis yakni tadalafil. Pihak BPOM memperingatkan kepada masyarakat luas agar lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi minuman tersebut.

Berikut ini adalah 22 merek kopi yang positif mengandung bahan kimia tersebut :

  1. 39 Sa Kao 3 in 1 Kopi Mix Plus Ektrak Jahe (Depkes RI PIRT No. 210317594151/Kota Jakarta Utara)
  2. 39 Sa Kao Kopi Mix Ginseng Korea 3 in 1 (PIRT 210317505151/Kota Jakarta Utara)
  3. Bel-Bel Kopi Susu Extra (PT. Mandala Cahaya Sentosa/PIRT 610331502001)
  4. Black Borneo Platinum Coffee (PT Victoabel Food Industry/P-IRT 6103515401564)
  5. Dream Coffee (PT. Mandala Cahaya Sentosa – Sidoarjo/PIRT 6103515271564), ( PT. International Green Natural, P-IRT 6103515271564), PIRT. 6103515271564 Kab. Sidoarjo)
  6. Dynamic Coffee/Dynamic Coffee Nusantara/Dynamic Tribulus Coffee (PT. Daya Dinamika Nusantara, PIRT 210360301411), (PT. Daya Dinamika Nusantara, PIRT 210360301411), (PT Aimfood Indonesia, PIRT 210360301411), (PT Aimfood Indonesia, PIRT 210360301309), PT. Daya Dinamika Nusantara, PIRT 210360301411)
  7. Golden Life (P-IRT 6103515121399 Kab. Sidoarjo)
  8. Good Coffee Premium/Good Coffee (PT. Putra Gudti Indonesia PIRT No. 6103271011147 Kota Bogor), (CV. Bin Halim untuk PT. Putra PIRT. 6103271011147, Kota Bogor), (PT. Putra Gudti Indonesia, PIRT No. 6103271011147, Kota Bogor)
  9. Herba Max Coffee (Distributor PT Solusky P-IRT 6103515311564 Kab. Sidoarjo)
  10. Jahe Mix Barokah (PIRT 213317518151 Kota Jakarta Utara)
  11. Jomoon Instan Coffee (Green Nirmala PIRT. 6103515131399 Kab. Sidoarjo), (PT. Green Nirmala - Sidoarjo PIRT. 610351531399 Kab. Sidoarjo)
  12. Joss-Fly Coffee Plus Panax Ginseng (PT. Mandala Cahaya Sentosa PIRT 610331502001 Kab. Grobogan)
  13. Kopi Cleng - Sehat, Nikmat, Berstamina (CV. Jamu Moro Sehat, Banjarnegara, Depkes RI TR 147/11-10/2005)
  14. Kopi KPH/Kopi Kuat (PIRT. 6103515331564 Kab. Sidoarjo)
  15. Kopi Mahabbah (Depkes RI PIRT No. 6103515321564 Kab. Sidoarjo), PT. Mandala CS P-IRT No 6103515321564 Kab. Sidoarjo), (Mahabbah Group P-IRT No 6103515321564 Kab. Sidoarjo), (Mahabbah Group PIRT No. 6103515321564 Kab. Sidoarjo)
  16. Kopi Pasutri (Al Jazira Herbal, Bekasi PIRT 610351533564 Kab. Sidoarjo)
  17. Kopi Strong 234 (PT. Hamiegi Bandung PIRT. 81032730203771 Kota Bandung)
  18. Maca-Tekh (PT. Wootekh Jakarta Indonesia PIRT 210360303411)
  19. Matador Coffee
  20. Mawaddah Coffee (PIRT. 212320207429 Kab. Sukabumi)
  21. On Coffee
  22. Premium Energy Coffee (Dinkes PIRT No. 210360314309 Kab. Tangerang)

(deo/rhb)

http://erabaru.net/top-news/37-news2/28583-bpom-temukan-22-merek-kopi-berbahaya

BPOM : UKM Kosmetik Diminta Lakukan Notifikasi Produk Sendiri

BPOM mendorong UKM untuk belajar melakukan notifikasi produknya sendiri dan tidak menggunakan jasa calo untuk menghindari pemerasan.

Pada 1 Januari hingga 30 April 2011, sebanyak 10.926 item produk kosmetik telah ternotifikasi/terdaftar. Sebanyak 1.470 produk diantaranya merupakan buatan lokal industri, 4.139 produk lokal usaha kecil, menengah (UKM) dan 5.317 atau 48,66 persen produk impor.

"Jumlah UKM yang mendaftar itu 181 perusahaan. Sejak 1991-2010 jumlah produk kosmetik yang terdaftar sebanyak 112.545 produk," ujar Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kustantinah dalam seminar 'Harmonisasi ASEAN Bidang Kosmetika, Peluang, Tantangan dan Hambatan' di Jakarta, Senin (9/5)

Dikemukakan, sebanyak 10.926 item produk kosmetik telah didaftarkan atau ternotifikasi dalam jangka waktu 'hanya' empat bulan sejak penerapan pendaftaran/notifikasi kosmetik ASEAN pada 1 Januari 2011, kata Kepala Badan POM Kustantinah.

Read more...

SEPUTAR NAMA "GROSIR SURABAYA"

Tidak terasa, sudah berlalu beberapa bulan sejak website baru GROSIR-SURABAYA.com ini diluncurkan.

Setelah melakukan perubahan tampilan desain website, kami melihat jumlah kunjungan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini juga terbantu dengan informasi di beberapa media offline seperti buletin, brosur, dan majalah.

Tidak sedikit yang memberikan komentar positif atas perubahan tampilan yang memang benar-benar berbeda dari blog sebelumnya. Bagi yang ingin melihat tampilan blog kami sebelumnya, dapat mengunjungi http://grosir-surabaya.blogspot.com.

Dalam hal pemakaian nama "GROSIR SURABAYA", kami melihat semakin banyak yang menggunakan nama "GROSIR SURABAYA" sebagai keyword (kata kunci) atau nama usaha/bisnis di dunia maya (web, facebook, blog, dll). Hal ini menunjukkan bahwa kata kunci "GROSIR SURABAYA" ternyata memang diminati.

Dalam menyikapi fenomena semacam ini, kami justru merasa senang. Karena hal ini akan semakin meningkatkan rating GROSIR SURABAYA di search engine. Bagi mitra/agen/rekanan yang sudah lama berkecimpung di dunia herbal atau menjadi rekanan setia GROSIR SURABAYA tentu akan dengan mudah dapat membedakannya.

Sengaja dalam pemilihan nama usaha pada Januari 2009 kami tidak menyisipkan kata "HERBAL" agar menjadi GROSIR HERBAL SURABAYA atau SURABAYA HERBAL atau HERBAL SURABAYA, karena kami berharap usaha ini dapat berkembang tidak hanya pada kategori herbal saja, namun dapat merambah ke sektor bisnis yang lain.

Sengaja pula kami tidak mematenkan nama GROSIR SURABAYA, karena nama tersebut dimaksudkan hanya sebagai sarana memperkenalkan bisnis kami kepada masyarakat. Sehingga jika ada pihak-pihak lain yang bermaksud menggunakannya, kami tidak akan mempermasalahkannya.

Sampai dengan saat ini GROSIR SURABAYA memang tidak membuka cabang di tempat lain atau bergabung dengan cabang/afiliasi dari suatu entitas bisnis tertentu.

Hal ini perlu kami sampaikan sebagai konfirmasi sekaligus jawaban jika timbul pertanyaan mengenai kemiripan/kesamaan nama usaha baik di jalur online maupun offline.

GROSIR SURABAYA
Jl. Dukuh Kupang Timur 13 no 7, SURABAYA
Telp : 031-91214413, 031-78262303, 082140017171
Email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Buka : Setiap hari kerja, 08.00 - 19.00 WIB
Tutup : Minggu & Libur Nasional


Tips Kurangi Konsumsi Garam

Bagaimana kita dapat mengurangi konsumsi garam?

Konsumsi lebih banyak makanan segar, kurangi makan makanan olahan.

Daripada membeli sosis, hotdog, atau ham, pilihlah ayam segar atau daging sapi segar yang dapat diolah sendiri sehingga kita tahu pasti berapa garam yang kita tambahkan saat memasaknya.

Pilih produk yang rendah sodium.

Beberapa produk seperti sup, sayuran dalam kaleng, dan kacang-kacangan memiliki varian yang rendah garam.

Pilihlah varian produk dengan label ‘rendah garam’ (low salt) atau ‘rendah sodium’ (low sodium).

Untuk itu, kita perlu cerdas dalam membaca label makanan. Beberapa produk memiliki label “rendah sodium”, “bebas sodium”, atau “tanpa tambahan garam”. Agar Anda dapat memilih pilihan yang lebih sehat, Anda perlu mengerti arti label tersebut2:

  • Bebas garam (sodium-free, salt-free): Tiap sajian produk tersebut mengandung kurang dari 5 mg natrium.
  • Sangat rendah garam/sodium (very low sodium): Tiap sajian produk tersebut mengandung 35 mg natrium atau kurang.
  • Rendah natrium (low sodium): Tiap sajian produk mengandung 140 mg natrium atau kurang.
  • Garam lebih sedikit (reduced, less sodium): Produk ini mengandung sedikitnya 25% natrium lebih sedikit daripada versi regularnya.
  • Tanpa tambahan garam (unsalted, no salt added): Tidak ada garam yang ditambahkan selama pengolahan produk tersebut. Akan tetapi, makanan dengan label ini kemungkinan masih tinggi natrium jika bahan dasarnya memang sudah mengandung garam.
Batasi penambahan garam pada masakan kita.
Sebagai gantinya, gunakan bumbu rempah-rempah untuk memberi citarasa pada masakan. Atau, gantikan garam kita dengan saus yang rendah garam, misalnya kecap asin rendah garam.
Jika kita makan di luar rumah, mintalah agar salad, spaghetti, steak, atau sandwich pesanan kita dipisahkan dengan sausnya. Ingatlah bahwa saus juga mengandung garam. Dengan cara ini, kita dapat menentukan sendiri seberapa banyak saus yang Anda ingin tambahkan.
Perbanyak konsumsi buah dan sayur.
Buah dan sayur secara alami rendah natrium dan kaya kalium yang baik untuk tekanan darah.
Mudah, kan mengurangi asupan garam kita?
Mengurangi konsumsi garam akan membantu mengurangi resiko hipertensi.
Menurunkan konsumsi garam sebanyak 3 gram per hari sama efeknya dengan mengurangi 50% penggunaan rokok, terhadap penurunan resiko terkena penyakit jantung, atau 5% penurunan BMI, dan penggunaan obat penurun kolesterol1.

References :

  1. Bibbins-Domingo K, Chertow GM, Coxson PG, Moran A, Lightwood JM, Pletcher MJ, Goldman L. 2010. Projected Effect of Dietary Salt Reductions on Future Cardiovascular Disease. N Engl J Med 362: 590-9.
  2. MayoClinic.com. 2010. Sodium: How to tame your salt habit now. http://www.mayoclinic.com/health/sodium/NU00284/NSECTIONGROUP=2 [9 Februari 2011]
  3. WebMD. 5 Easy Ways to Cut Back on Salt. http://www.webmd.com/diet/features/5-easy-ways-to-cut-back-on-salt [9 Februari 2011]

Daftar Makanan Penunjang Hipertensi

Merasa tidak pernah menambahkan garam ke dalam makanan sehingga berpikir tidak perlu mengontrol jumlah asupan garam?
Garam berada di hampir semua jenis makanan yang kita makan. Kita mengonsumsinya tanpa sadar, dan bisa saja, ternyata jumlah asupan garam kita sudah berlebih!

Berasal dari mana sajakah garam yang kita konsumsi?
Kita menambahkan garam pada saat memasak, atau pada saat makan untuk meningkatkan citarasa. Hal tersebut kita lakukan dengan sadar dan dapat kita kontrol dengan mudah.

Namun, terdapat beberapa jenis makanan yang tanpa kita ketahui ternyata tinggi garam.

Makanan apa sajakah itu?

  1. Makanan Olahan (processed food)
    Kebanyakan makanan yang sudah diproses sebelumnya atau makanan instan memiliki kandungan garam yang tinggi. Misalnya, daging kaleng, sosis, ham, mie instan, kentang beku (french fries), dll.
  2. Saus dan Penyedap Rasa
    Saus seperti kecap dan bumbu siap saji lainnya juga mengandung natrium dalam jumlah yang cukup banyak. Demikian juga dengan penyedap rasa, pilihlah yang tidak berbahan dasar monosodium glutamate (MSG).
  3. Hidangan Restoran
    Pada saat memesan menu di restoran/kafe, kita tidak mengetahui berapa banyak garam atau penyedap rasa yang dibubuhkan oleh koki ke dalam makanan kita. Cobalah untuk selalu berpesan kepada pelayan, agar koki tidak menambahkan penyedap rasa dan menggunakan garam terlalu banyak ke dalam makanan kita.

Dalam tabel berikut, Anda dapat melihat jumlah garam yang terdapat pada makanan yang umum1,2. Garam yang dimaksud di sini adalah natrium, atau dikenal juga sebagai sodium, yang terkandung di dalam garam yang biasa kita pakai.
Bandingkan
jumlah garam yang terdapat dalam makanan tersebut, dengan jumlah anjuran garam yang dikonsumsi dalam sehari, yaitu 2300mg.

Ya, Anda boleh terkejut. Kandungan garam (natrium) dalam makanan-makanan tersebut memang sedemikian tinggi. Oleh karena itu, mulailah sejak saat ini untuk mengurangi konsumsi garam Anda.

References :

  1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional 2007. Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
  2. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. 2009. Tabel Komposisi Pangan Indonesia. PT Elex Media Komputindo, Jakarta.
More Articles...

 

Search